Pages

Cerita Singkatku Mendapat Beasiswa Master dari Fulbright (Part 1/3)

Bukan karena ingin mengekor para sesepuh yang lebih dahulu berbagi cerita mendapat beasiswa dari Fulbright. Bukan pula ingin pamer (yah sedikit boleh lah) karena saya mendapat beasiswa Fulbright (sujud syukur sehari semalam). Bukan pula ingin menggurui kalian semua para pembaca perihal kiat sukses menembus beasiswa Fulbright. Izinkan Ananda (agak sopan) menuliskan pengalaman luar biasa sekali seumur-umur ketiban rezeki dalam wujud mahluk yang bernama beasiswa Fulbright. Yah anggap saja cerita pengalaman ini sebagai cerita pelengkap dari cerita-cerita terdahulu. Loh kok pelengkap? Iya, soalnya sudah banyak yang menulis cerita tentang Fulbright. Tengok saja tulisan-tulisan yahut di situs www.indonesiamengglobal.com

Eits! Walau dikata pelengkap, insyaallah cerita ini ditulis dengan hati yang ikhlas dan pikiran yang jernih. Peringatan! Apabila ada kemiripan kata, kalimat, atau ide dengan cerita-cerita terdahulu, hal ini diluar tanggung jawab penulis. Harap pembaca maklum karena beasiswa Fulbright memang populer, jadi banyak yang excited untuk menceritakannya hehehe. Trus, penulis sengaja hanya akan fokus cerita pada proses mendapatkan beasiswanya saja. Karena kalau sembari cerita pengalaman menjalani studinya, maka butuh waktu 1 tahun 22 bulan hihihi. Lebih lanjut, mungkin cerita ini juga kurang detail karena ya memang ceritanya sesuai yang diingat saja hehehe.

Ok! Tanpa ba bi bu, kunci mendapat anugerah beasiswa Fulbright menurut saya adalah kesabaran “tingkat malaikat” dan optimisme “tingkat dewa”. Biar dikata lebay, memang begitulah adanya. Kenapa perlu kesabaran super? Karena proses pendaftaran sampai dengan yakin bahwa kaki menginjak tanah Amerika memerlukan waktu tak kurang dari 1.5 tahun lamanya. Deadline untuk pendaftaran beasiswa program master adalah 15 April. Maka kalian perlu menarik ke belakang kira-kira berapa lama butuh mempersiapan berkas pendaftarannya. Untuk kasus saya, hampir 8 bulan saya mempersiapkan berkas pendaftaran sebelum deadline nya. Tercatat saya mengambil test TOEFL ITP sebagai modal utama melamar beasiswa pada September 2011. Untuk program master, nilai minimal TOEFL adalah 550 (untuk lebih lengkapnya sila tengok www.aminef.or.id.

Selain TOEFL, yang tak kalah penting adalah mempersiapkan rencana belajar (study objective). Rencana belajar ini sangat esensial karena dari sinilah pihak sponsor (Fulbright) mempelajari keseriusan serta kelayakan kalian mendapat beasiswa. Maka, yang saya lakukan untuk memantapkan rencana belajar adalah dengan refleksi terhadap diri apa sebenarnya passion studi saya. Lalu, saya mulai surfing di internet universitas-universitas yang mempunyai program studi sesuai passion saya tadi, serta mencari tahu professor yang melakukan penelitian sesuai dengan bidang yang ingin saya tekuni.

To be continued...

oOo

No comments:

Post a Comment