Pages

Cerita Singkatku Mendapat Beasiswa Master dari Fulbright (Part 2/3)

Selesai dengan refleksi, langkah selanjutnya adalah melakukan korespondensi dengan professor yang ditarget. Saya melakukan korespondensi dengan lebih dari 5 professor di lebih dari 3 universitas. Daaaaaaaan…. Ketemulah saya dengan 1 professor yang cucok banget dengan kriteria, dan si doi (minta digampar) juga tertarik dengan “rayuan” saya hehehe…

Mantab dengan angan-angan studi, maka langsung saja saya tumpahkan ke dalam rencana studi. Di dalam rencana studi tersebut, saya juga mention korespondensi saya dengan professor tadi.

Alright! TOEFL sudah, rencana studi sudah. Selanjutnya tinggal melengkapi dokumen pendaftaran Fulbright, dan dikirimlah berkas “keramat” itu ke kantor AMINEF (pengelola beasiswa Fulbright) yang terhormat tepat seminggu sebelum deadline, 8 April 2012 (Jangan ditiru yah hehehe). Pengiriman berkas menandai permulaan dari derita hati yang tiada akhir (tapi bukan derita cinta tiada akhir Patkai). Para penerima beasiswa Fulbright pasti gag asing kalau fase setelah pengiriman berkas adalah serasa yang terlama dalam hidup mereka. Hidup bagai menantikan sesuatu yang tak pasti, berdebar-debar, harap-harap cemas dan lain lain hehehe. Apasih yang ditunggu? Bukan lain dan tak lain adalah wawancara beasiswa. Kalau sudah begini, hanya doa yang bisa menyelamatkan iman kita (busyeeeeeeet…).

Bagai tertimpa durian runtuh, tak disangka tak dinyana saya mendapat panggilan wawancara. Sekitar awal Agustus 2012 saya melaksanakan wawancara di Yogyakarta. Kebetulan bertepatan dengan bulan Ramadan. Pikir saya, apapun hasilnya insyaallah wawancaranya berkah karena dilaksanakan di bulan yang penuh barokah (sedikit dakwah wkwkwkwk).

Okay! Pagi-pagi saya sudah dandan dandy (jarang-jarang kek gini), mengepalkan tangan tinggi-tinggi, berikrar dalam hati “Gusti Allah mboten sare” (Gusti Allah tidak tidur). Entah apa maksudnya pokoknya secara spontan hanya mantra itu yang terpikir. Setelah menunggu giliran, akhirnya saya dipersilahkan masuk. Ada 4 panelis terhormat dengan wajah-wajah beliau yang memancarkan kecerdasaan (jadi merasa paling bego sedunia hahaha). Tiga panelis asli Indonesia dan satu panelis Fulbrighter (sebutan untuk penerima beasiswa Fulbright) dari Amerika. Seperti yang saya prediksi, pertanyaannya normatif, yaitu berputar-putar di sekitar rencana studi dan kontribusi setelah selesai menyelesaikan program. Dengan mantab saya menjawab setiap pertanyaan. Nah… mungkin yang membuat saya mantab adalah karena saya punya rencana studi yang jelas, kampus yang jelas, professor yang jelas, dan bidang penelitian yang jelas. Saya bahkan mention ke panelis kalau saya sudah berkorespondensi dengan satu professor di Amerika. Mungkin itu juga yang membuat panelis kelihatan percaya dengan “jualan” saya hihihihi.

To be continued...

oOo

No comments:

Post a Comment