Pages

Si Sabar Versus Si Syukur



Kata sabar dan syukur memang mudah diucapkan tetapi susah untuk dipraktekkan. Saya tidak akan mencontohkan sesuatu yang jauh tetapi saya akan sedikit berbagi pengalaman saat menjalani usaha roti.

Beberapa waktu yang lalu saya sedikit bercanda dengan seorang salesman. Karena musim hujan dia kadang tidak berangkat. Saya cuma berkata "sabar ya mas, ini lagi musim hujan. Jadi kalau berangkat dan pulang jualan disambut oleh hujan maka ya harus tetap berangkat. Mau gimana lagi".

Akhir-akhir ini, hujan mulai jarang turun maka saya pun juga berkata "Tu kan mas, kalau sabar dan syukur sekarang panas mulai datang. Enak kan? jualan saat cuaca mendung tidak panas dan tidak hujan begini?". Karena saya tidak praktek jualan makanya saya enteng bilang sabar dan syukur. Pas waktu gantian jualan baru terasa susahnya. Hujan mendera begini kok disuruh sabar dan syukur. Jatahnya dagangan habis dijual eh masih sisa banyak karena hujan.

Di sebuah kesempatan gantian istri yang bilang memang enaknya kalau jualan itu mendung terus, ga hujan dan ga panas. Saya cuman sempat mikir, memang dasar manusia kalau dituruti ga ada habisnya. Saya sendiri cuman menimpali ke istri "Di Eropa orang banyak bunuh diri dan sakit jiwa karena cuaca yang selalu mendung sehingga membuat hati suram dan galau. Akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidup". Kasus-kasus tersebut terjadi saat mereka kekurangan sinar matahari. Solusinya diterapi dengan sinar ultra violet di rumah sakit. Aneh kadang bin ajaib. Namun memang hal tersebut terjadi.

Saat ini jika hujan mendera, saya berucap 'Alkhamdulillah'. Satu sisi ada masalah dalam penjualan dan motivasi dagang. Di sisi lain, saya bersyukur karena kolam ikan yang baru saja saya buat akan terisi air sedikit demi sedikit. Air hujan merupakan solusi untuk kolam ikan saya karena saya tidak mungkin mengisinya dengan menggunakan air sumur. Bisa-bisa jebol kantong untuk bayar listrik demi menghidupkan pompa air.

Kalau boleh saya bilang manusia memang egois. Kita lebih banyak melihat semua hal dari kacamata dan kepentingan kita masing-masing. Kalau cuaca panas karena kita ingin pesta kebun maka kita berucap 'Alkhamdulillah'. Lain cerita jika hujan deras menghalangi pesta kebun yang sudah kita rencanakan dengan matang plus mengundang teman-teman kita. Pastinya kita akan berkata 'Aduh, Allah ini gimana'.

Padahal kalau kita mau melihat dari kacamata yang lain maka kita mungkin akan selalu bersyukur dan tetap bersabar menghadapi segala kondisi yang kita hadapi. Hujan deras merupakan jawaban doa para petani yang sedang menanam padi, jawaban doa penduduk Afrika yang sedang kekurangan air. Mereka bersorak saat hujan turun bahkan meminta lebih deras dan lebih lama lagi. Mereka bersyukur karena mereka, hewan ternak dan tanaman pangan mereka bisa minum dan tetap bisa bertahan hidup.

Mari tetap bersabar dan bersyukur dengan kondisi yang diberikan oleh Allah kepada kita. Selama kondisi tersebut bermuara kepada kondisi hati yang lebih tenang dan membuat arah hidup kita menjadi lebih baik maka wajiblah kita berkata 'Alkhamdulillah'. Mungkin menurut kita apa yang sedang dibebankan adalah kondisi yang buruk, tetapi mungkin itu adalah obat yang sedang diberikan oleh Allah untuk mengangkat derajat kita, menjadi pribadi yang lebih baik, lebih santun dan lebih sempurna.

No comments:

Post a Comment