Pages

Beasiswa Pertukaran Pelajar AFS (part 2/2)


(Tulisan ini penulis dedikasikan untuk Almarhum Bapak Sutikno, sesepuh Bina Antarbudaya Chapter Malang)

Tulisan ini meneruskan cerita tentang beasiswa pertukaran pelajar AFS sebelumnya. Bedanya, tulisan ini lebih berfokus pada pengalaman si penulis menjalani proses seleksi beasiswa AFS yang memakan waktu kurang lebih satu setengah tahun. Iya satu setengah tahun lamanya si penulis dibuat panas dingin oleh mimpi-mimpi bisa menjelajahi negeri asing nun jauh di sana (sedikit drama hehe). Cerita berawal dari adanya selembar flyer usang yang terpampang di mading SMA. Waktu itu tidak banyak siswa atau siswi yang menghiraukan flyer putih dengan garis header berwarna biru muda dan logo merpati bertuliskan Bina Antarbudaya. Singkatnya, mata penulis berbinar-binar terfokus pada tulisan ‘kesempatan pertukaran pelajar ke luar negeri’. Bayangan berjalan-jalan di negeri asing pun langsung mondar-madir dalam pikiran. Ok, tanpa pikir panjang penulis ‘sowan’ ke bagian kesiswaan untuk menanyakan perihal flyer tersebut. Eh.. la kok kebetulan ternyata kata Pak Waka Kesiswaan, Pak Suwarso, ada kakak kelas yang sudah setengah jalan menjalani proses seleksi beasiswa tersebut. Nama kakak kelas tersebut Fajar Budiman. Tanpa ba-bi-bu penulis menghubungi Kak Fajar untuk tanya ini itu tentang beasiswa AFS. Dengan senang hati Kak Fajar menanggapi pertanyaan penulis, malahan ‘mengompori’ penulis untuk segera mendaftar. Alhasil, dengan bantuan Kak Fajar, penulis berhasil mengisi formulir pendaftaran yang panjangnya minta ampun. Sebenarnya, penulis sempat ragu untuk mendaftar karena waktu itu kemampuan Bahasa Inggris penulis cetek banget. Tapi kata dia yang penting daftar dulu, Bahasa Inggris nomer ke sekian, tidak usah terlalu dipikirkan. Dengan mengucapkan ‘Bismillahirrahmanirrahim’, penulis mengirim berkas pendaftaran tepat saat akhir semester pertama kelas satu SMA.

Kalau diurutkan dari awal pendaftaran, maka secara garis besar ada enam tahapan yang harus dilewati untuk lolos seleksi beasiswa AFS. Ke-enam tahapan tersebut terbagi dalam dua tingkat, yaitu empat tahapan di tingkat chapter (perwakilan daerah Bina Antarbudaya) dan 2 tahapan di tingkat nasional. Baiklah, penulis akan menceritakan ke-enam tahapan tersebut dengan singkat dan padat (semoga saja hehe). Tahapan pertama adalah seleksi berkas a.k.a formulir pendaftaran. Tadi sempat penulis singgung bahwa isian pada formulir pendaftaran sangat panjang. Iya memang panjang, karena selain mengisi informasi tentang data diri, pendaftar juga harus melengkapinya dengan essay, cerita singkat tentang keluarga, photo-photo kegiatan dengan keluarga, dan alasan kenapa mendaftar beasiswa AFS. Kalau lolos seleksi berkas, maka tahap selanjutnya adalah test tertulis.

Tahapan kedua adalah test tertulis yang diadakan di sekolah masing-masing. Test ini meliputi test potensi akademik dan essay. Test potensi akademik menguji pengetahuan umum siswa dan Bahasa Inggris. Sedangkan untuk essay, siswa diminta untuk membuat essay dengan tema khusus yang ditentukan oleh panitia seleksi dan dikerjakan langsung di dalam kelas.

Tahapan ketiga apabila lolos test tertulis adalah wawancara di tingkat chapter, pada waktu itu chapter penulis adalah chapter Malang karena SMA penulis berada di Jombang yang mana lebih dekat ke Malang daripada ke Surabaya. Di Jawa Timur sendiri ada dua chapter yaitu Malang dan Surabaya. Di Jawa Tengah ada satu chapter di Semarang, di Yogyakarta ada satu chapter, dan seterusnya untul detail chapter se-Indonesia dapat dilihat di website Bina Antarbudaya (www.bina-antarbudaya.or.id/en/home). Seperti wawancara pada umumnya, pertanyaan panelis formatif seputar kenapa kalian tertarik dengan program pertukaran pelajar ini, bagaimana kalian bisa menjadi duta budaya bagi Indonesia di mata dunia, manfaat apa yang kalian harapkan dari program pertukaran pelajar ini, dan seterusnya. Yang perlu diperhatikan adalah adanya panitia yang secara diam-diam menilai sikap dan tindakan kalian ketika berinteraksi dengan peserta wawancara lainnya ketika menunggu giliran diwawancarai. Ternyata maksud panitia adalah mereka ingin melihat kemampuan bersosialisasi peserta yang mana kemampuan ini harus dimiliki oleh calon siswa pertukaran pelajar.

Tahapan keempat adalah ujian dinamika kelompok. Ujian ini gampang-gampang susah karena peserta dibagi dalam beberapa kelompok dengan peserta lain yang belum kenal guna berdiskusi dan memecahkan masalah yang telah ditentukan oleh panitia. Pada ujian ini, panitia tidak hanya melihat bagaimana seorang peserta bisa berbicara di dalam kelompok, tapi juga bagaimana ia bisa mendengar dan mengakomodir ide dari peserta lain di kelompoknya.

Keempat tahapan di atas harus dilalui di tingkat chapter, baru dua tahapan lagi menunggu di tingkat nasional. Dua tahapan di tingkat nasional meliputi wawancara dan dinamika kelompok. Wawancara dan dinamika kelompok di tingkat ini tidak jauh berbeda dengan di tingkat chapter, hanya saja skalanya lebih luas. Sebagai contoh, untuk dinamika kelompok di tingkat nasional, para peserta diharuskan berbaur dengan siswa dari berbagai suku, agama, dan daerah lain dari seantero Indonesia. Pengalaman penulis, dinamika kelompok di tingkat nasional sangat menyenangkan karena dipertemukan dengan sahabat-sahabat hebat dengan background yang beraneka ragam dari seluruh Indonesia. Sesi wawancara juga tak kalah menyenangkan dan mendebarkan karena yang menjadi panelis adalah tokoh-tokoh nasional seperti penyair senior, Kak Taufik Ismail, pengamat pendidikan, Kak Arief Rahman dan Kak Asmir Agoes, serta tokoh-tokoh lainnya. Merupakan sebuah kebanggan tersendiri bagi penulis karena bisa satu meja dengan tokoh-tokoh tersebut.

Setelah ke-enam tahapan di atas bisa dilampaui maka tahapan selanjutnya adalah persiapan keberangkatan. Selain test kesehatan dan mendaftar VISA sebagai syarat wajib, salah satu persiapan yang harus dilakukan adalah memperkaya wawasan kebudayaan Indonesia seperti lagu daerah, tari, dan pakaian daerah. Sebagai duta Indonesia, siswa pertukaran pelajar harus bisa mempromosikan kebudayaan Indonesia di mata dunia. Maka bisa dibayangkan betapa bangganya terpilih menjadi siswa pertukaran pelajar karena bisa menjadi duta budaya Indonesia yang menjembatani kesepahaman antara budaya Indonesia dengan negara lain di dunia.
Sebagai penutup penulis tidak dapat mengungkapkan dengan kata-kata betapa berharganya kesempatan dan pengalaman menjadi siswa pertukaran pelajar. Kalian ingin tau cerita pengalaman penulis menjadi siswa pertukaran pelajar dan tinggal bersama keluarga angkat di Amerika Serikat? Tunggu tulisan selanjutnya. Stay tune!

Keep Awesome!!!

No comments:

Post a Comment