Pages

Apa Kalian Pantas Mendapat Beasiswa?

Judul di atas mungkin sedikit bernada menantang. Ya memang aku tantang kalian semua para pejuang pemburu beasiswa untuk sedikit berkaca pada diri masing-masing apakah pantas mimpi-mimpi mendapat beasiswa menjadi kenyataan. Ini bukan berarti kalau bermimpi seindah-indahnya itu tidak boleh. Sah-sah saja mau bermimpi bisa sekolah ke luar negeri semau kalian, sekaligus jalan-jalan menjelajahi negeri asing yang indah-indah sesuka kalian. Masalahnya apakah kalian semua punya cukup keberanian dan determinasi untuk menggapai mimpi kalian?

Kiranya kalian mungkin ingat dengan “Tamparan” terbuka Pak Made, dosen Teknik Geodesi UGM, ke mahasiswanya. Dengan tegas beliau memperingatkan para mahasiswa untuk memantaskan diri dari sejak dini sebelum mereka berani-berani bermimpi jauh-jauh sekolah gratis ke luar negeri. Cara memantaskan dirinya seperti apa? Ya belajar yang sungguh-sungguh! Belajar yang rajin sesuai dengan bidang yang ditekuni biar IPKnya mumpuni; jangan ragu belajar TOEFL karena test penguasaan bahasa Inggris ini sudah jadi syarat umum untuk mendaftar beasiswa; belajar komunikasi yang baik dengan dosen dan professor di luar negeri via surat elektronik.

Aku yakin kalau kalian para pembaca yang budiman sudah banyak membaca, mendengar, atau bahkan mengikuti seminar-seminar motivasi tentang bagaimana mendapat beasiswa ke luar negeri. Aku sendiri pernah mengikuti beberapa seminar tersebut. Salah satu kesan yang aku dapat adalah mata dari sebagian besar peserta seminar terlihat berbinar-binar, seakan-akan aku bisa melihat semangat mereka meluap-meluap keluar dari raga, siap untuk menggapai mimpi sekolah ke luar negeri. Tak terkecuali aku sendiri. Dengan semangat aku berebut microphone dengan peserta seminar yang lain untuk bertanya kepada sang narasumber tentang tips, bahkan trick, untuk memenangkan sebuah beasiswa. Tetapi, saat keluar dari ruang seminar aku terus berfikir. Aku fikir kalau dari ratusan orang yang ikut seminar, mungkin tidak sampai separuhnya yang benar-benar bakal mendapat beasiswa. Aku juga bertanya-tanya apakah seluruh peserta seminar ini akan benar-benar mencoba mendaftar beasiswa? Lebih jauh lagi, aku jadi ragu pada diri sendiri, apa aku bakal mampu bersaing dengan peserta lain yang aku bilang jauh berpotensi secara akademik dibanding aku? Well, aku terus bilang pada diri sendiri untuk tidak larut dalam andai-andai. Siapa peduli semua orang dapat beasiswa apa tidak. Siapa peduli orang lain akan daftar beasiswa apa tidak. Yang aku harus peduli adalah aku harus memantaskan diri secara akademik untuk bisa bersaing dengan para pencari beasiswa lainnya.

Di kesempatan yang lain, membaca tulisan-tulisan inspiratif para penerima beasiswa ke luar negeri dari blog, majalah, dan buku memang dapat memompa semangat, memperluas wawasan, serta memberi perspektif yang berbeda tentang bagaimana cara dan perjuangan mendapatkan beasiswa serta menjalaninya kalau sudah mendapatkannya. Karena sejatinya mendapatkan beasiswa tidak instan, dan menjalaninya juga harus dengan rasa tanggung jawab. Yang aku dapat pelajari dari beberapa tulisan teman-teman penerima beasiswa adalah bahwa umumnya mereka harus berjuang menghadapi ujian-ujian yang tak mungkin dilewati dengan hanya berpangku tangan, menunggu keberuntungan datang, atau merengek-rengek minta belas kasihan. Mereka semua dengan determinasi yang tinggi berani menantang nasib. Tentu saja mereka tidak hanya bermodalkan tangan kosong. Mereka bekerja keras, mereka belajar tekun, dan mereka tak putus berdoa. Sehingga ketika anugerah beasiswa datang menghampiri mereka, sebenarnya bukan karena keberuntungan semata, tetapi karena mereka memang “Memantaskan” diri untuk mendapatkannya.

Di era millennium ini, semakin banyak tawaran beasiswa untuk bersekolah di dalam maupun di luar negeri. Informasi tentang tawaran beasiswa tersebut pun semakin mudah untuk dicari. Para pencari beasiswa semakin dimudahkan dalam proses pendaftaran beasiswa. Dengan sistem yang terbaharui, sekarang mendaftar beasiswa bisa dilakukan via online. Namun, yang menjadi pertanyaanku adalah apakah system yang semakin advanced dan kesempatan yang semakin banyak ini berbanding lurus dengan kualitas penerima beasiswanya? Sekali lagi, yang ingin aku tekankan di sini adalah apakah kita semua punya cukup kualitas untuk mendapatkan beasiswa? Jangan-jangan kita, bahkan aku sendiri, punya niatan mencari beasiswa hanya karena aji mumpung. Kita mencari beasiswa bukan karena sadar dengan kualitas. Kita menjadi scholarship hunter karena bernafsu untuk travelling ke luar negeri. Jikalau motivasi ini yang digunakan, maka akan sangat sayang sekali karena menurutku mendapat beasiswa itu tidak hanya untuk kesenangan pribadi tetapi secara tidak langsung kita juga living others’ dreams. Kadang aku berfikir, di luar sana banyak sekali orang-orang yang lebih berkualitas dan layak menerima beasiswa daripada aku. Aku bilang, mungkin aku beruntung. Tapi aku meyakinkan diri bahwa aku juga pantas menerimanya karena aku kerja keras untuk mendapatkannya. Efeknya adalah, dengan mengingat bahwa aku ini mewakili mimpi para pencari beasiswa yang lain, tak pantas kiranya aku bermalas-malas belajar dan membuang-buang waktu di perantauan.

Jika kembali lagi ke judul artikel ini “Apa Kalian Pantas Mendapat Beasiswa??”, maka ada dua pesan yang ingin aku sampaikan ke kalian para pemburu beasiswa. Yang pertama, sebelum buru-buru mendaftar beasiswa, selayaknya kita memantaskan kualitas pribadi. Apakah kita sudah belajar dengan tekun? Apakah kita punya motivasi yang benar? Apakah kita sudah cukup berusaha dan berdoa? Pertanyaan-pertanyaan tersebut silahkan anda renungkan. Aku sangat yakin bahwa beasiswa apapun akan bisa didapat kalau anda sekalian sudah bisa menjawab tantangan dari pertanyaan di atas. Kedua, harus diingat bahwa perjuangan tidak berhenti setelah kalian mendapat beasiswa. Kalian juga perlu memantaskan diri ketika sudah mendapat besiswa. Caranya dengan belajar yang sungguh-sungguh dan mulai memikirkan kontribusi apa yang kalian bisa berikan sepulang dari perantauan. Kalau motivasi turun, ingat kalau kalian juga secara tidak langsung menjadi wakil dari para pencari beasiswa lainnya. Maka kalian tidak ingin mengecewakan mereka yang tidak seberuntung mendapat kesempatan beasiswa. Sebagai penutup, aku ingin mengucapkan “Selamat berjuang para pencari beasiswa! Raih mimpi-mimpi kalian. Jangan menunggu keberuntungan menghampiri kalian. Pantaskan diri agar nilai beasiswa tidak hanya sekedar beruntung atau tak beruntung, tetapi karena memang kalian pantas mendapatkannya”.

No comments:

Post a Comment