Pages

Motivasi Mengejar Beasiswa MORA Language Course

Lanjut ke cerita pengalaman mendapatkan MORA Scholarship, kali ini saya fokuskan pada motivasi mengapa saya perlu mendapatkan beasiswa kursus bahasa asing tersebut.

Proyeksi dan mimpi saya setelah menyelesaikan studi S1 adalah melanjutkan S2, mengapa? Karena passion saya di bidang pendidikan dan ibu saya juga sangat senang jika saya bisa menjadi dosen. Singkatnya, maka saya perlu S2, selanjutnya pertanyaaannya dimana? Tentu lebih afdhol jika saya bisa studi ke luar negeri. Dalam hal pilihan ini bukan karena belajar di luar negeri adalah sesuatu yang wowww. Lebih tepatnya karena ingin belajar langsung ke negara native speaker. Selanjutnya karena dengan belajar di kampus top hundred atau fifty of best university in the world tentu saya bisa menggali ilmu yang lebih berkualitas, up to date dan practical applied knowledge seperti di UK, US dan Australia. Pertanyaan yang terus terkait adalah? Bagaimana persyaratan menuju kesana?

Well, terkait persyaratan utama agar bisa terdaftar di universitas seperti di UK adalah IELTS. Itulah mengapa saat MORA memberi kesempatan pada calon peserta untuk memilih jenis bahasa asing yang ingin kita perdalam, exactly saya memilih bahasa Inggris dan memilih kursus IELTS.

Selain karena motivasi utama ingin mengejar beasiswa S2 ke UK. Alasan lain adalah saya menjadi tahu apa itu IELTS, jenis tesnya bagaimana, dan menjadi tahu perbedaan IELTS dan TOEFL secara lebih detailed.

Dulu saat saya kuliah, kampus saya hanya mengenalkan dan memfokuskan pada TOEFL. Hal ini pun juga berpengaruh pada jenis bahasa Inggris yang saya gunakan, yakni American English. Ditambah lagi setelah saya berkonsultasi dengan dosen saya alumni UK dan mengikuti Education UK Exhibition membuat saya kini lebih mantap untuk mengejar mimpi belajar di UK, khususnya di UCL (University College London) Institute of Education. UCL merupakan kampus terbaik pertama di dunia untuk education and research.

Pernah terdengar cerita dari salah satu teman saya sealmamater di IAIN Salatiga, sebut saja namanya Wafa. Dia juga mendapatkan beasiswa kursus bahasa asing MORA dan tertarik memilih IELTS, namun dia mendapatkan beasiswa ini di periode April 2015. Sejauh yang dia ceritakan, program MORA Scholarship mengalami peningkatan program. Dia bercerita bahwa bagi peserta yang lulus administrasi, selanjutnya mereka mendapatkan kesempatan untuk melakukan placement test IELTS di lembaga bahasa yang sudah bekerja sama dengan MORA. Selanjutnya adanya sistem seleksi, yang dimaksud disini ada dua jenis. Pertama, jika hasil placement test peserta mencapai IELTS band score 6, maka merekalah yang lolos untuk mengikuti kursus. Kedua, bagi peserta yang mencapai IELTS band score 6.5, maka mereka langsung direkomendasikan ke MORA untuk mengikuti program studi S2 ke luar negeri.

Wah memang ada perbedaan program antara angkatan saya dan teman saya tersebut, namun saya tetap bersyukur karena pernah mendapatkan kesempatan ini! Silakan mencoba!

No comments:

Post a Comment