Pages

Cerita Singkatku Mendapat Beasiswa Master dari Fulbright (Part 3/3)

Okay forget about the interview because there was really nothing to do but pray asking God what best for us (intinya pasrah hehehe). Maka, mulailah fase kedua deg-degan memendam kerinduan yang mendalam (sambil nyanyi dangdut). Daaaaaaaaaan… Bagai disambar petir di siang bolong, sekitar bulan Oktober 2012, tiba-tiba saya mendapat telepon dari seorang wanita dengan suara yang sexy (jarang-jarang dapat telepon dari cewek hahaha), mengucapkan selamat kalau saya terpilih sebagai prospective candidate (candidate utama) penerima beasiswa master Fulbright. Jujur, saya senengnya bukan main, tapi di hati kecil jangan-jangan ini hoax. Mungkin karena lama menunggu respon dari saya, si wanita misterius di seberang telepon “mengancam” saya. Dia bilang, “Baiklah Nazil, segera saja buka email yang sudah kami kirim seminggu yang lalu, dan ditunggu responsenya. Itupun kalau Nazil masih tertarik dengan beasiswa Fulbright”. Whaaaaaaatt?! Email? Seminggu yang lalu? Duh saya panik bukan main. Langsung saya ke warnet dan ngecheck, eh ternyata benar saya dapat email resmi dari AMINEF kalau saya terpilih menjadi prospective candidate. Langsung saya ikrarkan “Alhamdulillah!!!” Wait? Ini masih candidate loh, belum pasti juga nanti berhasil mendapatkan beasiswanya dan akhirnya berangkat ke Amerika. Yah gag apa-apa lah, paling tidak saya sudah berhasil melewati satu langkah dan langkah-langkah selanjutnya pun sudah menunggu.

I know I know… Sesuai dengan judul, cerita ini harusnya singkat. Fast forward, tahapan selanjutnya adalah melengkapi berkas-berkas yang aje gile banyak dan rumitnya. Tenang, semua candidate Fulbright pernah melewatinya, dan mereka survive kok hihihihi… So, jalani saja. Selain melengkapi berkas, saya beserta candidate lainnya diharuskan untuk mengambil test TOEFL iBT dan GRE. Ini nih yang bikin kepala puyeng. Pengalaman saya, kalau TOEFL iBT ok lah, tapi GRE nya itu yang bikin miris. Miris karena di test GRE pertama saya, nilai ancur banget (sambil nyakar tembok hu hu hu). Tapi saya sedikit lega (legaaaaaaa banget) karena AMINEF memberi kesempatan saya untuk mengambil lagi test GRE sampai nilainya yah cukup lah untuk passing grade di universitas tujuan. Yang paling bikin lega adalah karena biaya test TOEFL dan GRE sekaligus akomodasi ke-di-dari Jakarta seluruhnya ditanggung oleh AMINEF hehehe.

Oh iya, sebenarnya proses pemberkasan dan test-test tesebut saling overlap (tumpang tindih). Salah satu berkas yang harus diisi adalah nama-nama universitas pilihan untuk didaftarkan oleh pihak Fulbright. Kalau gag salah, saya diberi kesempatan untuk memilih 5 universitas. Nah syarat masuk di universitas-universitas tersebut lah yang menjadi acuan layak tidaknya nilai TOEFL iBT dan GRE. Misal, universitas pilihan adalah universitas X (bukan nama sebenarnya hihihi) dan syarat minimal nilai TOEFL iBTnya adalah 100. Kalau saat test pertama nilai kalian cuman 90, maka nanti kalian akan diminta untuk mengulang sampai nilainya bisa memenuhi syarat tersebut. Kalau saya tidak salah ingat, AMINEF akan men-cover biaya test sampai 3 kali pengulangan. Selebihnya biaya ditanggung penumpang hehehe.

Test sudah, daftar universitas sudah. Maka tahap berikutnya lagi-lagi menunggu. Menunggu jawaban si gadis cantik dalam wujud LoA (Letter of Acceptance). LoA ini juga tak kalah bikin senewennya. Konon cerita ada candidate yang sampai dengan tahun ajaran baru dimulai (biasanya Agustus-September) belum mendapatkan LoA, dan gagal lah dia berangkat ke Amerika (knock on wood… Semoga tidak terjadi ke kalian para pembaca). Alhamdulillah puji syukur sesyukur-syukurnya saya mendapat LoA pada pertengahan bulan April 2013, sehingga pada bulan Mei bisa mengikuti acara pre-departure orientation dari AMINEF yang bertempat di Surabaya (hu hu hu padalah angkatan setelahnya bertempat di Nua Dua, Bali). Nah… Di orientasi inilah saya (atau kami) mendapat petuah yang bijak bestari dari Pak Menteri Kemendikbud, Bapak Anies Baswedan, yang mana alumni Fulbright juga. Beliau berpesan, “Walaupun kalian semua sudah menjadi candidate penerima beasiswa Fulbright, jangan senang dulu. Karena kalian baru resmi menjadi Fulbrighter kalau sudah menginjak tanah Amerika”. Batinku, “waduh jadi deg-degan, jadi gag sih berangkat ke Amerika buat sekolah?”

Intinya, pesan dari Pak Anies mengingatkan kita untuk tidak berbangga dulu lolos seleksi beasiswa Fulbright sebelum secara fisik benar-benar sampai ke universitas tujuan kita di Amerika. Karena banyak faktor yang membuat seorang candidate Fulbright gagal berangkat, contohnya visa tidak dikeluarkan oleh pemerintah Amerika, tidak dapat tiket pesawat, sakit sebelum berangkat, dikawinkan oleh orang tua (untung bukan saya hihihihi), de el el. Nah untuk proses pengurusan visa dan tiket pesawat nanti akan dilanjutkan secara lebih mendetail oleh staff AMINEF hehehe.

Akhirnyaaaaaaaaaaaa… dengan mengucap syukur kehadirat Yang Maha Kuasa, saya berangkat ke Amerika dan sampai pada hari Minggu 7 Juli 2013 pukul 10.00 pagi (hari bersejarah, jadi kudu diinget hihihi). Saya memang berangkat lebih awal karena Alhamdulillah (untuk yang kesekian kali) mendapat kesempatan pre-academic training selama kurang lebih 3 minggu di California, padahal universitas saya di Georgia. Pre-academic ini dimaksudkan untuk mempersiapkan mahasiswa agar terbiasa dengan atmosfir perkuliahan yang real di Amerika, disamping untuk meningkatkan kemampuan bahasa (padahal batin saya, rumayan bisa jalan-jalan dulu hihihihi). Oh iya, karena kuota pre-academic ini terbatas, maka pihak AMINEF menawarkan dan siapa cepat dia dapat hehehe.

Alright! That’s all the lines I could write for now. Hopefully they are not too long hihihi. Sekali lagi, kunci mendapat beasiswa Fulbright bagi saya adalah kesabaran yang dibumbui dengan optimisme. Kalau dihitung secara matematis, membutuhkan waktu hampir 2 tahun bagi saya untuk mempersiapkan diri, mendaftar, menjalani proses tahapan seleksi, dan akhirnya resmi turun dari pesawat sampai di Amerika. Jalani saja prosesnya dan enjoy. Good luck untuk para Fulbright hunters!

Comments, thoughts, and critics are most welcome =)


No comments:

Post a Comment