Pages

Beasiswa Pertukaran Pelajar AFS (Part 1/2)


Apa sih AFS? Sebagian dari kalian mungkin masih asing dengan beasiswa pertukaran pelajar ini. Baiklah, artikel akan mengulas tentang beasiswa AFS serta pengalaman penulis menjadi seorang AFSer (penerima AFS).

AFS itu singkatan dari American Field Service. Awalnya, AFS adalah sebuah organisasi sosial sukarela yang lahir pada saat Perang Dunia Pertama. Didirikan oleh A. Piatt Andrew pada tahun 1915, organisasi ini bertugas membantu menyediakan supir-supir ambulance untuk para korban perang. Angkatan pertama relawan ini ditugaskan di Paris, Prancis. Tentu saja tugas sebagai seorang supir ambulance tidak main-main karena para relawan tersebut bertugas di tengah perang yang berkecamuk dan nyawa sebagai taruhannya. Yang mengherankan, para relawan ini ternyata berasal dari keluarga terhormat yang mana sebagian besar dari mereka adalah mahasiswa dari universitas-universitas terkemuka di Amerika Serikat. Para relawan yang terpelajar ini lalu menuliskan pengalaman mereka bertugas di medan perang dalam bentuk surat, diary, jurnal, dan bahkan puisi. Mereka tidak hanya menceritakan tentang kengerian perang, tetapi juga kearifan budaya lokal di Perancis, serta bagaimana mereka bertemu dan berinteraksi dengan pelajar Perancis. Tak disangka, tulisan-tulisan mereka berhasil menggugah lebih banyak lagi relawan untuk bergabung dengan AFS. Banyak dari relawan ini yang termotivasi bergabung dengan AFS bukan hanya karena ingin menjadi supir ambulance tetapi juga karena ingin mempelajari budaya lokal dan bertemu langsung dengan pelajar Perancis.

Ternyata pengalaman menjadi relawan ambulance meninggalkan kesan tersendiri bagi para pelajar Amerika. Setelah perang berakhir, mereka semakin bersemangat untuk bertemu dengan pelajar Perancis. Sebaliknya para pelajar Perancis juga ingin lebih lanjut belajar tentang budaya Amerika. Maka muncul inisiatif untuk mempererat hubungan kedua negara melalui program pertukaran pelajar. Mulai saat itulah AFS melebarkan sayap menjadi sponsor French Fellowships, yaitu sebuah program pertukaran bagi pelajar Amerika dan Perancis. Pada perkembangannya setelah Perang Dunia Kedua, AFS menjadi sponsor utama pertukaran pelajar dan menjangkau lebih banyak pelajar dari negara-negara lain seperti Ceko, Estonia, Inggris, Yunani, Hungaria, Belanda, Selandia Baru, Norwegia, dan Siria. Saat ini, setiap tahunnya AFS mensponsori program pertukaran pelajar di lebih dari 80 negara dan membuka kesempatan untuk lebih dari 13.000 pelajar, termasuk pelajar dari Indonesia.

Program AFS telah menjangkau Indonesia sejak tahun 1956. Ribuan siswa siswi Indonesia diberangkatkan ke Amerika Serikat dalam program pertukaran pelajar tersebut. Selama kurang lebih satu tahun, mereka tinggal secara langsung dengan keluarga Amerika, bersekolah di sekolah Amerika, dan belajar budaya Amerika. Bebarapa alumni AFS Indonesia yang sekarang menjadi tokoh nasional antara lain Kak Taufik Ismail, Tanri Abeng, Anies Baswedan, dan Najwa Syihab.

Di Indonesia, AFS bekerja sama dengan Yayasan Bina Antarbudaya. Didirikan oleh para alumni AFS, Bina Antarbudaya memiliki lebih dari 20 chapter (kantor perwakilan) di berbagai penjuru Indonesia. Setiap tahunnya, Bina Antarbudaya memberangkatkan siswa siswi Indonesia untuk mendapat pengalaman belajar akademik dan budaya di negara-negara partner seperti Amerika Serikat, Jepang, Italia, Jerman, Australia, Norwegia, China, Perancis, Mexico, Argentina, Brazil, dan masih banyak lagi.

Pengalaman menjadi siswa siswi pertukaran pelajar sangat berkesan bagi para alumni. Pengalaman sekali seumur hidup itu telah membuka mata dan mengubah hidup mereka. Tidak hanya berkesampatan mengunjungi negara lain, tetapi mereka juga berkesempatan untuk belajar bahasa asing, mempunyai teman baru, belajar budaya baru, bahkan merasakan cara dan gaya hidup yang baru. Dengan tujuan utama untuk menciptakan siswa siswi yang berkompetensi antarbudaya, program pertukaran pelajar ini dimaksud membentuk pribadi yang mampu beradaptasi di kebudayaan manapun, mandiri, bertanggung jawab, dan berpikiran terbuka.

Pengalaman menjadi AFSer meninggalkan kesan yang sangat mendalam bagi penulis sendiri. Berasal dari pondok pesantren tradisional yang masih konservatif, program AFS telah memberi kesempatan kepada penulis untuk membuka cakrawala bahwa dunia ini begitu luas dan kaya akan budaya, bahasa, warna, cara hidup, kepercayaan, dan nilai-nilai kehidupan. Program AFS telah menjadi jembatan pemahaman antarbudaya sehingga timbul rasa saling menghormati dan menghargai budaya dan bangsa lain guna menjaga persaudaraan dan kedamaian dunia.

Kalian ingin tahu tentang bagaimana penulis bisa terpilih menjadi AFSer? Dan bagaimana pengalaman hidup sebagai AFSer? Stay on this channel because the next story is coming soon.

Stay awesome!!!

No comments:

Post a Comment